Senja ini kulihat mawar berduri
Kokoh tertancap di tanah,
Warnanya menggoda setiap mata
Berhenti terpaku oleh pesonanya
Kuhampiri sosoknya yang tegar
Telunjukku pun tertusuk durinya
Darah segar mengalir membasahi kulitku
Dan kuteteskan air mataku
Air mata di kelopak mawar
Kupandang dalam-dalam
Apakah kau berdoa mawar?
Apakah kau berduka mawar?
Masih perih kurasakan
Masih kurasakan tangisnya
Ia bertanya kepada Tuhan
"Kenapa aku berduri"
Ia menatapku tajam
"Kenapa aku diciptakan menjadi makhluk tegar?"
Ia memandang sendu rumpun melati di kejauhan
"Tidak bisakah aku dilahirkan menjadi selemah melati?"
Akupun menghiburnya
Mungkin jika tak tegar dan berduri,
Kamu bukanlah mawar
Aku meninggalkannya dengan tersenyum
Biarkanlah semua yang melukaimu
Membuatmu meneteskan airmata,
Berlalu..
Biarkanlah mereka bahagia seakan tak pernah mengenalmu
Apakah lebih baik perasaanmu mawar?
Ia pun tersenyum
Berterima kasih atas kepergianku
No comments:
Post a Comment